Beranda / Politik / Sutrisno Pangaribuan: Isu “Aksi Mahasiswa Dibayar” Jangan Dijadikan Alat Memecah Gerakan Mahasiswa

Sutrisno Pangaribuan: Isu “Aksi Mahasiswa Dibayar” Jangan Dijadikan Alat Memecah Gerakan Mahasiswa

Jakarta, 27 Juni 2026 – Presidium Kongres Rakyat Nasional sekaligus Direktur Eksekutif Indonesian Government Watch, Sutrisno Pangaribuan, menilai tudingan bahwa aksi mahasiswa didanai pihak tertentu bukanlah isu baru dalam dinamika demokrasi Indonesia. Menurutnya, narasi semacam itu telah berulang kali muncul setiap kali gerakan mahasiswa menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

Dalam tulisan berjudul “Tuduhan Recehan untuk Memecah Gerakan Mahasiswa”, Sabtu (27/6/2026), Sutrisno berpendapat bahwa gerakan mahasiswa pada hakikatnya merupakan gerakan moral dan fungsi kontrol sosial yang memiliki posisi penting dalam kehidupan demokrasi.

Ia menyampaikan bahwa tuduhan mengenai adanya pendanaan di balik aksi mahasiswa sebaiknya tidak mengalihkan perhatian dari substansi tuntutan yang disampaikan para mahasiswa. Menurutnya, pemerintah justru perlu menjadikan berbagai aksi tersebut sebagai masukan dan alarm terhadap pelaksanaan kebijakan publik.

Sutrisno juga berpandangan bahwa dalam sejarah politik Indonesia selalu terdapat dinamika antara kelompok elite dan gerakan mahasiswa. Karena itu, ia mengingatkan agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang dinilainya berpotensi memecah soliditas gerakan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa mahasiswa tetap perlu menjalankan fungsi kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah, termasuk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Sekolah Rakyat, serta sejumlah kebijakan lain yang menurutnya layak mendapat pengawasan publik.

Dalam pandangannya, kritik mahasiswa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem demokrasi. Oleh sebab itu, ia berharap ruang kebebasan berpendapat tetap dijaga serta tidak dibayangi stigma yang dapat melemahkan gerakan mahasiswa.

Di akhir tulisannya, Sutrisno mengajak mahasiswa untuk tetap menjaga independensi, soliditas, dan idealisme dalam mengawal jalannya pemerintahan. Menurutnya, fokus utama gerakan mahasiswa harus tetap berada pada kepentingan masyarakat, bukan terseret dalam dinamika persaingan politik elite.

“Gerakan mahasiswa harus tetap kokoh sebagai gerakan moral dan pengawas kepentingan rakyat. Isu yang berpotensi memecah persatuan gerakan tidak perlu mengalihkan fokus terhadap substansi perjuangan,” tulis Sutrisno dalam pernyataannya.

(Redaksi)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *