Dairi, 05 April 2026-
Perjalanan Ketua Umum KPKM RI sekaligus Direktur Utama Media Ruang Mulia Grup, Hunter D. Samosir, bersama istri, anak-anak, dan keluarga besar Sihombing pada momentum Paskah 2026 semula hanyalah perjalanan keluarga biasa. Tujuannya adalah marsombu sihol dan ziarah ke kampung halaman keluarga di Desa Ingin Maju, Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi.
Namun kunjungan pertama ke kampung mertua justru berubah menjadi pengalaman yang menyayat hati.
Di tengah suasana Paskah yang seharusnya penuh sukacita, Hunter D. Samosir mendengar langsung keluhan masyarakat yang selama ini hidup tanpa akses air bersih. Warga menceritakan bahwa hingga hari ini air bersih belum pernah benar-benar masuk ke dusun-dusun di Desa Ingin Maju.
Untuk memenuhi kebutuhan minum dan kebutuhan rumah tangga, masyarakat hanya mengandalkan air hujan yang ditampung di ember, jerigen, dan bak-bak sederhana. Ketika musim kemarau datang, warga harus berjalan jauh, menuruni jalan setapak dan jurang untuk mencari sumber mata air.
Kondisi itu bukan terjadi setahun atau dua tahun. Menurut pengakuan masyarakat, keadaan tersebut telah berlangsung sejak Indonesia merdeka. Ironisnya, setelah Kabupaten Dairi berdiri selama 78 tahun, masih ada warga yang hidup tanpa kebutuhan paling mendasar: air bersih.
Hunter D. Samosir menilai, ada jurang besar antara narasi resmi pembangunan dengan kenyataan yang dialami masyarakat.
Dalam berbagai data dan pidato resmi, Desa Ingin Maju kerap disebut sebagai desa yang memiliki potensi pertanian, budaya Batak Toba yang kuat, dan peluang besar untuk berkembang. Pemerintah berbicara tentang pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat, dan semangat menuju kesejahteraan.
Tetapi di lapangan, warga masih harus menadah air hujan untuk bertahan hidup.
Narasi dan Data Resmi Fakta yang Dialami Warga
- Desa disebut memiliki potensi besar untuk berkembang Warga masih belum mendapatkan akses air bersih
- Pemerintah menyebut pembangunan desa terus berjalan Infrastruktur dasar belum pernah masuk ke dusun-dusun
- Desa didukung program pembangunan dan pemberdayaan Warga hanya mengandalkan air hujan
- Potensi pertanian menjadi andalan Saat kemarau, warga harus turun ke jurang mencari air
Kabupaten Dairi disebut terus maju Setelah 78 tahun berdiri, masih ada warga yang belum merasakan hak dasar
Menurut Hunter D. Samosir, persoalan ini bukan sekadar soal fasilitas, melainkan soal keberpihakan politik dan arah pembangunan.
“Jika setelah 78 tahun Kabupaten Dairi berdiri masih ada masyarakat yang harus meminum air hujan dan mempertaruhkan keselamatan ke jurang hanya untuk mendapatkan air, maka yang gagal bukan masyarakatnya, tetapi kebijakan dan prioritas pembangunan,” tegasnya.
Ia menilai pemerintah terlalu sering membanggakan data, program, dan slogan, tetapi melupakan kebutuhan paling dasar masyarakat desa.
“Jangan bicara tentang desa maju, pertanian unggul, dan kesejahteraan jika air bersih saja belum pernah sampai ke dusun-dusun. Kemajuan tidak boleh hanya hidup di atas kertas, sementara rakyat tetap hidup dalam penderitaan,” ujar Hunter.
Desa Ingin Maju sesungguhnya bukan kekurangan potensi. Desa ini memiliki masyarakat yang kuat, tanah yang subur, serta semangat untuk bertahan. Yang belum hadir adalah keberanian politik untuk memastikan pembangunan benar-benar berpihak kepada rakyat.
Bagi Hunter D. Samosir, perjalanan marsombu sihol dan ziarah Paskah itu akhirnya berubah menjadi panggilan moral. Sebab di balik nama “Ingin Maju”, masih ada harapan besar warga agar suatu hari mereka benar-benar dapat merasakan arti kemajuan yang sesungguhnya.
Selama warga Desa Ingin Maju masih harus memikul jerigen ke jurang dan menggantungkan hidup pada air hujan, maka kata “maju” masih sebatas nama, belum menjadi kenyataan.
Redaksi









