Samosir, 16 Agustus 2026— Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyerukan penguatan kembali semangat kebangsaan dari Samosir. Di hadapan tokoh agama dan tokoh masyarakat, Hasto menegaskan bahwa Indonesia harus terus dirawat sebagai rumah bersama, tempat seluruh warga negara dapat hidup berdampingan dengan menjunjung kemanusiaan, keadilan, kebebasan beragama, dan nilai-nilai Pancasila.
Pesan tersebut disampaikan Hasto dalam Silaturahmi Kebangsaan bersama Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Kabupaten Samosir di Hotel Grand Dainang, Samosir, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian kunjungan Hasto bersama Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat dan rombongan ke Kabupaten Samosir.
Sebelumnya, Hasto bersama rombongan menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Samosir. Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan dialog kebangsaan bersama tokoh agama dan masyarakat dari berbagai unsur.
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara Rapidin Simbolon menyebut pertemuan tersebut sebagai ruang kebangsaan yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu semangat persaudaraan.
Menurut Rapidin, keberagaman tokoh yang hadir menggambarkan wajah masyarakat Samosir yang hidup dalam keberagaman agama, profesi, dan latar belakang sosial.
“Di sini berkumpul yang disebut dengan kebangsaan. Dari berbagai unsur masyarakat, ada yang HKBP, ada yang Katolik, ada sahabat, ada masyarakat petani, semua lengkap. Inilah undangan kita yang mewakili elemen masyarakat di tingkat Kabupaten Samosir,” ujar Rapidin.
Agama Harus Membumi, Kebangsaan Harus Menghidupkan Kemanusiaan
Dalam dialog tersebut, Hasto menekankan bahwa agama tidak cukup berhenti pada ritual. Nilai spiritualitas, menurutnya, harus hadir dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
“Doa itu penting sebagai spiritualitas bagi kita, tapi doa harus membumi, doa harus menjadi amal kemanusiaan, doa harus menciptakan karya,” kata Hasto.
Hasto juga membagikan refleksi spiritual yang ia peroleh selama menjalani masa penahanan. Pengalaman membaca berbagai kisah kenabian dan kitab suci, serta berdialog dengan tokoh-tokoh agama, menurutnya semakin memperlihatkan adanya nilai universal yang dapat menjadi titik temu antarmanusia.
Nilai tentang kemanusiaan, pengampunan, perjuangan menghadapi ujian, kebenaran dan keberpihakan kepada mereka yang lemah, menurut Hasto, merupakan pesan moral yang dapat memperkuat persaudaraan kebangsaan.
Karena itu, perbedaan agama maupun pilihan politik tidak semestinya menjadi alasan untuk memutus hubungan sosial. Justru keberagaman harus menjadi energi untuk membangun Indonesia secara bersama-sama.
“Indonesia ini dibangun untuk semua, bukan untuk satu kelompok tertentu,” tegas Hasto.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan politik kebangsaan bahwa demokrasi dan kehidupan bernegara harus memberikan ruang yang setara bagi seluruh warga negara, tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun pilihan politik.
Dari Samosir, Bicara Indonesia 100 Tahun ke Depan
Hasto kemudian membawa percakapan kebangsaan tersebut pada persoalan konkret yang menjadi masa depan masyarakat Samosir: Danau Toba.
Menurutnya, Danau Toba bukan sekadar destinasi pariwisata, melainkan mahakarya alam sekaligus warisan yang harus dipertanggungjawabkan kepada generasi mendatang.
Karena itu, pembangunan Samosir tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan jangka pendek. Diperlukan visi tata ruang yang mampu menjaga keseimbangan antara pertanian, hutan, sungai, permukiman, pariwisata dan ruang publik.
“Ke depan mari kita beri imajinasi 100 tahun ke depan Samosir ini bagaimana. Ini harus ada tata ruang. Mana tempat-tempat pertanian yang harus kita lindungi, tempat untuk wisata yang harus kita jaga kelestariannya, sungai-sungai sebagai jalan peradaban, hutan-hutan yang hijau sebagai sumber oksigen kehidupan, semua sekitar jaga,” ujarnya.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa politik kebangsaan yang dibawa Hasto tidak hanya berbicara mengenai kontestasi politik, tetapi juga menyentuh agenda pembangunan berkelanjutan, lingkungan hidup, kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan ruang hidup.
Pariwisata Harus Mengangkat Masyarakat Lokal
Hasto juga mengingatkan agar pengembangan pariwisata Danau Toba tidak menjadikan masyarakat lokal sekadar penonton.
Masyarakat Samosir harus dipersiapkan menjadi pelaku utama melalui peningkatan keterampilan, kemampuan bahasa asing, pemahaman budaya, pengelolaan lingkungan serta pengetahuan mengenai potensi ekonomi daerah.
Dengan demikian, pertumbuhan pariwisata tidak hanya menghasilkan angka kunjungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam perspektif tersebut, menjaga Danau Toba merupakan bagian dari politik pembangunan yang berorientasi pada kepentingan generasi mendatang.
Merawat Indonesia dari Samosir
Menutup pertemuan, Hasto mengajak tokoh agama dan tokoh masyarakat Samosir terus menjadi kekuatan moral di tengah masyarakat.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang dialog yang mampu mempertemukan perbedaan, bukan memperbesar sekat. Pilihan politik boleh berbeda, keyakinan boleh berbeda, latar belakang sosial boleh berbeda, tetapi kepentingan kemanusiaan dan keutuhan bangsa harus tetap menjadi titik temu.
Ia juga menyerukan agar nilai agama dan Pancasila diterjemahkan dalam keberpihakan kepada masyarakat miskin, kelompok terpinggirkan, serta mereka yang menghadapi ketidakadilan.
“Dari Samosir ini mari kita gelorakan semangat untuk memuliakan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari, memperjuangkan keadilan dan juga kebenaran dengan berpihak kepada yang miskin, yang terpinggirkan, dan yang diperlakukan tidak adil,” pungkas Hasto.
Dari Samosir, pesan kebangsaan itu kembali ditegaskan: Indonesia bukan milik satu kelompok, melainkan rumah bersama yang hanya akan tetap kokoh apabila persatuan, kemanusiaan, keadilan, dan keberagaman terus dirawat bersama.
Redaksi









