Simalungun,16 Agustus 2026— Kepala SMA Negeri 1 Dolok Batu Nanggar, Warkum, S.Pd, akhirnya memberikan klarifikasi terkait pemberitaan yang menyebut dirinya telah menghina atau merendahkan profesi wartawan.
Warkum menegaskan bahwa dirinya menghormati kemerdekaan pers dan tidak pernah bermaksud menghalangi tugas jurnalistik. Menurutnya, persoalan yang berkembang harus dilihat berdasarkan konteks komunikasi secara utuh, termasuk percakapan yang telah berlangsung sebelumnya.
“Benar ada komunikasi melalui WhatsApp dengan bahasa tersebut. Tetapi konteksnya harus dilihat secara utuh. Pada Juni 2026 saya sudah menerima dan berdiskusi dengan beberapa rekan media. Prinsip saya adalah saling menghargai,” ujar Warkum.
Parkir di Luar Lingkungan Sekolah
Mengenai persoalan parkir yang menjadi salah satu sorotan, Warkum menjelaskan bahwa lokasi yang digunakan siswa berada di lahan masyarakat di luar lingkungan sekolah.
Dalam percakapan WhatsApp yang menjadi bagian dari klarifikasi, Warkum menyampaikan:
“Urusan penggunaan jalan di lahan parkir bukan urusan kepala sekolah. Sekolah punya batas tembok itu.”
Menurut Warkum, penjelasan tersebut berkaitan dengan batas kewenangan sekolah. Karena lokasi parkir berada di luar lingkungan sekolah, persoalan penggunaan lahan dan pengaturan parkir, menurutnya, perlu dikonfirmasi kepada pihak yang memiliki kewenangan.
Hormati Pers, Minta Komunikasi Profesional
Warkum menyatakan memahami bahwa pers memiliki fungsi kontrol sosial dan hak memperoleh informasi. Namun, ia berharap proses konfirmasi dilakukan dengan komunikasi yang profesional dan tetap menghormati posisi narasumber.
“Silakan media melakukan konfirmasi. Saya tidak menutup pintu. Kalau saya tidak berada di sekolah, bisa disampaikan melalui Humas. Itu bagian dari mekanisme sekolah,” katanya.
Ia juga menyebut UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik sebagai bagian dari koridor yang harus dipahami bersama dalam hubungan antara media dan narasumber.
“Tamu Datang dengan Sopan, Saya Pun Segan”
Warkum menyampaikan prinsip sederhana yang menurutnya menggambarkan sikapnya terhadap setiap tamu yang datang ke sekolah.
“Tamu datang dengan sopan, saya pun segan.”
Ia menegaskan kalimat tersebut bukan bentuk penolakan terhadap wartawan, melainkan ajakan agar komunikasi antara sekolah, media dan masyarakat berlangsung secara baik.
Pilih Kolaborasi, Bukan Polemik
Warkum mengakui dirinya masih relatif baru menjabat sebagai kepala sekolah dan masih melakukan penyesuaian dengan lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar.
Ia berharap polemik komunikasi tidak menggeser perhatian dari persoalan yang lebih penting, yakni peningkatan mutu pendidikan.
“Saya tidak ingin persoalan komunikasi mengganggu kepentingan pendidikan. Kritik tetap kita terima, konfirmasi tetap kita layani. Harapan saya seluruh stakeholder, termasuk media, masyarakat, guru, orang tua dan pemerintah, dapat berkolaborasi meningkatkan mutu pendidikan,” ujarnya.
Warkum menutup klarifikasinya dengan menegaskan bahwa dirinya tetap menghormati profesi wartawan dan tidak bermaksud menghina dunia pers.
Menurutnya, perbedaan komunikasi seharusnya dapat diselesaikan melalui klarifikasi dan mekanisme profesional, bukan berkembang menjadi pertentangan antara sekolah dan media.
Pers tetap dihormati. Kritik tetap diterima. Klarifikasi tetap dibuka. Dan komunikasi harus dibangun dengan etika, profesionalisme serta koridor hukum.
Redaksi









